Biometrika Indonesia

Apa itu Self Compassion?

Self-compassion merupakan konsep yang diadaptasi dari filosofi Buddha tentang cara mengasihi diri sendiri layaknya mengasihi orang lain, dengan kata lain kasih sayang diri. Compassion melibatkan perasaan terhadap diri sendiri dan orang lain untuk meringankan penderitaan, kesadaran terhadap penyebab dari penderitaan, dan perilaku yang menunjukkan kasih sayang.

Menurut peneliti Kristin Neff, mendefinisikan self-compassion sebagai sikap memiliki perhatian dan kebaikan terhadap diri sendiri saat menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup ataupun kekurangan dalam diri serta memiliki pengertian bahwa penderitaan, kegagalan, dan kekurangan dalam diri merupakan bagian dari kehidupan setiap orang. Seseorang yang memiliki self-compassion lebih dapat merasakan kenyamanan dalam kehidupan sosial dan dapat menerima dirinya secara apa adanya, selain itu juga dapat meningkatkan kebijaksanaan dan kecerdasan emosi.

Pada anak-anak, self-compassion membantu anak-anak menghadapi kegagalan, kesalahan, kemunduran, dan masa-masa sulit dengan cara yang sehat. Selain itu, anak-anak dengan self-compassion cenderung lebih mudah bergaul dengan orang lain, membantu anak-anak berprestasi di sekolah dan mengembangkan keterampilan baru di berbagai bidang. Anak-anak juga cenderung tidak mengembangkan masalah terkait kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Self-compassion  merupakan sikap yang harus dibangun dan ditanamkan sejak usia dini. Oleh karena itu dibutuhkan keterlibatan orang tua agar anak memiliki self-compassion.

Berikut komponen yang membentuk self-compassion:

  • Self-kindness

Self-kindness adalah kemampuan untuk memahami dan menerima diri apa adanya. Hal ini membuat seseorang menjadi hangat terhadap diri sendiri ketika menghadapi rasa sakit dan kekurangan diri, memahami diri sendiri dan tidak menyakiti dirinya dengan mengkritik dan menghakimi diri sendiri ketika menghadapi masalah.

  • Common humanity

Yaitu kesadaran bahwa individu memandang kesulitan, kegagalan, dan tantangan merupakan bagian dari hidup dan merupakan sesuatu yang dialami semua orang, bukan hanya diri sendiri. Penting dalam hal ini untuk memahami bahwa setiap manusia mengalami kesulitan dan masalah dalam hidupnya.

  • Mindfulness

Mindfulness mengacu pada tindakan untuk melihat pengalaman yang dialami dengan perspektif yang objektif. Hal ini diperlukan agar individu tidak terlalu teridentifikasi dengan pikiran atau perasaan negatif. Dengan mindfulness individu dapat sepenuhnya mengetahui dan mengerti apa yang sebenarnya dirasakan.

 

Ditulis oleh Tia Gustiana, Konsultan Psikologi Biometrika Pribadi Indonesia

 

Mau Mendapat Insight Tentang Parenting, Pengembangan Diri & Karakter?

Daftar newsletter kami dengan isi form di bawah ini!