Biometrika Indonesia

Memahami Golden Child Syndrome

Golden child syndrome menurut psikiater Nereida Gonzales-Berrios, yaitu anak dibesarkan dengan menaruh harapan anak harus selalu baik dalam segala hal, tidak pernah membuat kesalahan, dan merasa berkewajiban untuk memenuhi keinginan orang tua. Selain itu, anak emas bertanggung jawab atas kesuksesan keluarga dan patut dibanggakan. Menjadi contoh untuk anak lain bahkan dibandingkan dengan saudara kandung sendiri, yang secara terus menerus akan menciptakan tekanan pada  anak. Dengan tujuan untuk memastikan bahwa anak tidak boleh gagal dalam perilaku dan prestasi.

Setiap anak tentu ingin mendapat perhatian dari orang tua dan akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Ketika anak melakukan hal baik atau memperoleh suatu pencapaian, orang tua tentu menaruh kebanggan terhadap anak dan memberikan pujian. Hal itu akan menjadikan anak merasa aman dan dihargai. Di sisi lain, ketika orang tua memberikan pujian yang berlebihan dan menaruh harapan lebih atas pencapaian anak, tanpa disadari akan membuat anak merasa tertekan atau sebaliknya menjadi pribadi yang narsistik. Hal tersebut yang mendasari adanya golden child syndrome.

Anak yang memiliki karakteristik anak emas biasanya dibesarkan oleh orang tua narsistik yang mengontrol dan menerapkan pola asuh otoriter. Narsistik adalah gangguan mental yang ditandai dengan gejala sering membanggakan diri sendiri dan merasa lebih superior dibanding orang lain. Sebenarnya, keinginan untuk membanggakan diri sendiri adalah sifat yang wajar yang dimiliki semua orang namun juga harus diwaspadai jika sudah berlebihan karena bisa mengarah pada gangguan narsistik.

Efek negatif dari golden child syndrome adalah anak tumbuh dengan harga diri yang rendah. Karena rasa harga diri anak emas terkait dengan kemampuan mereka untuk menyenangkan orang lain. Anak cenderung harus menampilkan citra diri yang sempurna untuk mendapat penghargaan dari orang lain. Selain itu, anak tumbuh menjadi pribadi yang defensive ketika menerima kritik, hal ini karena anak terbiasa hanya menerima umpan balik positif. Anak akan merasa telah gagal jika menerima umpan balik negatif, yang untuk mengatasi kegagalannya berujung pada kecanduan zat psikotropika. Dalam jangka panjang, anak juga bisa menjadi manipulatif dan mengontrol. Anak akan berusaha menguasai orang lain untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri.

 

Ditulis oleh Tya Gustiana, Konsultan Psikologi Biometrika Pribadi Indonesia

 

Mau Mendapat Insight Tentang Parenting, Pengembangan Diri & Karakter?

Daftar newsletter kami dengan isi form di bawah ini!